Eep yang juga Chief Executive Officer (CEO) PolMark Indonesia itu menanggapi gerakan sejumlah elemen masyarakat saat ini. Termasuk gerakan yang dilakukan sejumlah tokoh agama baru-baru ini.
Dia mengatakan, banyak orang yang beranggapan bahwa dalam waktu yang tidak lama lagi, Presiden SBY bakal jatuh. Hal itu disebabkan makin meluasnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap kinerja presiden.
Menurut Eep, upaya penjatuhan presiden sebenarnya tidak mudah. Putusan MK memang memberi kemudahan bagi DPR untuk menggunakan hak menyatakan pendapatnya. Tetapi proses menuju ke arah pemakzulan masih sangat berliku.
Berdasarkan pengalaman di berbagai negara, setidaknya ada empat faktor yang bisa membuat presiden dijatuhkan. Pertama, jika ada skandal yang besar sehingga semua orang berpendapat bahwa tidak ada maaf lagi seperti yang terjadi di Tunisia.
Tetapi Eep menggarisbawahi bahwa definisi skandal harus tuntas. Misalnya seberapa jauh keterlibatan presiden dalam kasus tersebut. Selain itu, skandal tersebut juga harus menjadi definisi publik.
Kedua, jika ada resistensi formal dari parlemen. Saat ini, Sekretariat Gabungan (Setgab) sedang bergejolak. Sejumlah partai-partai menengah mengapungkan wacana untuk membentuk poros tengah. Hanya saja, lanjut Eep, tidak ada yang bisa menjamin bahwa poros tengah itu terbentuk di 2011.
Ketiga, adanya gerakan di luar lembaga formal, yang memperkuat daya dobrak dan daya tembak partai-partai oposisi. Saat ini, gerakan sosial itu memang ada, tetapi dianggap belum cukup kuat. Keempat, adanya keresahan yang luas dari masyarakat.
Sepanjang faktor-faktor itu tidak terpenuhi, maka sulit menjatuhkan presiden tahun ini. Lantas bagaimana pada tahun 2012? "Kita akan tunggu lagi. Yang pasti kuncinya, jika Indonesia mengalami krisis ekonomi dan finansial yang tidak terkelola hingga akhir tahun," jelasnya.
Yang pasti, lanjutnya, benih-benih konflik terus muncul dalam koalisi pemerintah. Eep mengatakan sulit berharap koalisi pemerintah tetap solid pada 2011. Penyebabnya, SBY dinilai tidak punya disiplin dalam mengelola koalisi.
Kepentingan politik 2014, katanya, sulit didamaikan di antara koalisi. SBY juga tidak punya kemampuan untuk mengakomodasi kepentingan partai menengah dan kecil dalam koalisi. Para pimpinan partai dalam koalisi juga tidak mampu mengendalikan kadernya di parlemen.
Belum lagi konfrontasi terselubung antara SBY dengan Aburizal Bakrie. Eep mengistilahkannya dengan bahasa Jawa, "Paheren-heren." Artinya konfrontasi di antara dua bola mata. Kelihatannya keduanya akur-akur saja, tetapi sebenarnya terjadi perang dingin.
Anggota DPR RI dari Partai Hanura, Akbar Faizal, mengatakan dikabulkannya pengujian UU 27/2009 menjadi jalan masuk untuk penuntasan kasus Bank Century. Hal itu sekaligus menjadi ancaman bagi presiden jika tidak berhati-hati.
Akbar sependapat bahwa tidak mudah menjatuhkan presiden. Namun, hal itu juga bukan tidak mungkin. Sebab, ini untuk pertama kalinya sejak era Soeharto muncul ketidakpercayaan yang luas dari masyarakat, termasuk dari kalangan tokoh agama.
Anggota DPR lainnya dari Fraksi PDI Perjuangan, Maruarar Sirait mengatakan penggunaan hak menyatakan pendapat menjadi keniscayaan bagi DPR. Putusan MK, katanya, memberi kemudahan untuk itu dan bukan tidak mungkin mengarah pada pemakzulan.
Hanya saja, Maruarar mengaku bahwa PDI Perjuangan sangat berhati-hati dalam kasus Bank Century ini. Dalam diskusi di Pressroom DPR, Kamis, 20 Januari, dia mengaku mencium adanya pihak yang memanfaatkan penuntasan kasus Bank Century ini.
Ketua DPP PDI Perjuangan ini mengatakan kesempatan itu bisa saja menjadi alat bargaining politik partai-partai yang dalam koalisi pemerintah. Terutama dalam mengamankan posisinya menterinya dalam kabinet.
No comments:
Post a Comment